DIY Shoes Dryer

Oleh Bagas Dika Anggoro pada Sabtu, Desember 3rd, 2016


Halo pembaca sekalian, rasanya sudah lama vakum dari hobby ini. Maklum, sedang disibukkan oleh tugas akhir #baladamahasiswatua #akukudusemangat, loh malah curhat, maapkeun yak! Hahaha. Oke back to the topic.

Ngomong-ngomong, sekarang sudah bulan Desember ya, bulan-bulannya hujan. Apalagi di tempat penulis sekarang (Yogyakarta) hampir setiap hari hujan, akibatnya ya terkadang sepatu ikut basah karena kehujanan. Masalah basahnya di luar sih tinggal di lap/dikipasin aja. Kalau basahnya sampai ke bagian dalam sepatu? Kalau udah basah, terus bingung karena besok mau dipake kuliah lagi terus penulis harus berbagi hati kipas dengan sepatu penulis ketika sampai di kost demi mengeringkan sepatu, supaya bisa dipakai untuk kuliah keesokan harinya. Itupun kalau sepatunya kering, kalau nggak?

Dari sinilah, muncul ide penulis untuk membuat pengering sepatu sendiri, yang tentunya aman untuk sepatu kita. Penulis mencoba untuk bongkar-bongkar box hobby yang ada di kost. Ditemukan benda-benda ini:

dsc03266

Tau kan alat apa aja yang ada di situ? Kalau nggak tau, ini penulis kasih tau. Urutanya dari kiri ke kanan, terus atas ke bawah ya: Solder, Kawat Ni-Chrome, jepit buaya, lem tembak, selongsong kabel, baut dan mur, tenol, kipas DC, sama box hitam polos. Disarankan box hitam polosnya pakai yang kecil aja, biar bisa muat dimasukin ke dalam sepatunya nanti.

Oh iya, cara pemakaian alat ini adalah dengan memasukkannya ke dalam sepatu, terus ditunggu saja sampai beberapa lama. Kalau penulis sudah pernah pakai sih sebelumnya, suhunya sekitar 40 degC. Yang udah penasaran sama cara buatnya, yuk langsung di simak aja cara pembuatannya.

Pembuatan rangkaian pemanas (heating element)

Heating element jadi komponen utama yang dibutuhkan untuk pengering sepatu DIY ini. Kita butuh rangkaian ini untuk menghasilkan udara yang hangat (bukan panas lho ya, hangat. ingat-ingat! Hangat. Terlalu panas dapat menyebabkan sepatumu rusak!). Rangkaian pemanas ini dihasilkan dari kawat Ni-Chrome ynag dialiri listrik. Btw di sini ada yang nggak tau kawat Ni-Chrome? Bisa di baca di sini ya.

Pembuatan rangkaian pemanasnya gampang-gampang susah, pertama, kawat harus dibuat lekukan-lekukan dan diusahakan jangan sampai menempel satu sama lain. Tujuan pembuatan lekukan ini adalah supaya kita mendapat luas permukaan transfer panas yang besar. Nantinya panas yang ditimbulkan dari kawat ini akan disembur oleh udara yang berasal dari kipas. Kalau sudah dilekukkan, ditempelkan ke holder ya. Nanti holder itu akan kita solder ke sumber listrik. Pemasangan kawatnya juga dilakukan di dalam box. (Btw, mungkin beberapa pembaca akan sadar, lho kok ukuran box-nya berbeda sama di gambar? Nanti ya, akan kujawa di bagian akhir) Jangan lupa, bagian depan box dibolongi, untuk tempat udara hangatnya keluar. Penulis sih mencontohkannya kayak gini:

dsc03241

Mungkin kelihatannya acak-acakan, tapi yakinlah, apa yang dibuat oleh penulis ini bisa bekerja. Yah percaya aja sama penulis. Hehehe.

Pemasangan kipas

Nah, sekarang kita buat penyembur udara. Sudah dikatakan di di bagian atas, bahwa kipas dipakai untuk menyem-bur rangkaian pemanas yang dihasilkan oleh kawat pemanas di atas. Kipas yang dipakai bisa bermacam-macam voltasenya, kalau di sini sih penulis pakai yang 12 V, bukan apa-apa, tapi karena emang yang ada di box cuma itu doang. Hehehe. Kabel kipas yang dipakai dihubungkan secara paralel ke kawat pemanas. Kipas ditaruh di bagian atasnya ya. Untuk menahan kipasnya, penulis memakai baut yang di lem. Penampakannya kayak gini

dsc03244

Kelihatan kan bautnya? Nah, bautnya itu untuk menahan kipas supaya tetap berada di tempatnya. Nanti kipas akan diletakkan di bagian atas box, lalu dibaut. Di gambar itu, rangkaian pemanas dan kipas dihubungkan secara paralel. Di gambar itu juga ada 2 kawat pemanas. Lho kok ada 2? Jadi sebenarnya, ini adalah Shoes Dryer versi kedua si penulis. Versi pertama adalah shoes dryer yang pakai kawat pemanas yang bentuknya koil. Karena dirasa kurang cukup, maka dilakukan sedikit perubahan dan penyempurnaan di versi yang ini. Btw menjawab pertanyaan di atas, kenapa boxnya beda, karena di sini penulis cuma punya box kosong yang ukuran seperti gambar awal. Untuk ukuran yang seperti sekarang sudah tidak ada. Di gambar itu juga kelihatan kan, bagian box yang dipotong, untuk tempat udara hangat keluar.

Pemasangan Jepit Buaya untuk penghubung sumber listrik

Nah, ini yang paling penting. Ujung dari semua ini adalah sumber listrik. Kalau rancangan di atas (dianggap) sempurna, tanpa sumber listrik, ya tidak bisa digunakan dong. Hehehe. Pemasangan jepit buaya ini sifatnya optional, tujuan penulis memasang jepit buaya ini adalah untuk memudahkan pemasangan alat pada sumber listrik. Oiya, by the way, sumber listrik yang digunakan disesuaikan ya, karena di sini penulis pakai kipas yang 12 V, ya jangan pakai sumber yang 5 volt, kipasnya nggak muter nanti. Hehehe. Penulis di sini menggunakan sumber daya 12V 6A, kok gede banget ya? Iya, adanya segitu, Hehe. Jangan dilupakan, bahwa arus listrik juga akan berpengaruh pada kinerja alat lho. Kalau cuma pakai arus 350 mA, dijamin, kipas sih bakal muterm tapi kawat pemanasnya nggak bisa menghasilkan panas, kalaupun bisa ya hanya sedikit panas yang dihasilkan. Penampakan alat setelah dipasang jepit buaya di bawah ya

dsc03255

We’re almost finish…

Sampai di sini, kita hampir selesai. Tinggal di satuin, kipas di baut, lalu di test. Eh… sebentar-sebentar. Menyadari nggak sih kalau ukuran panjang box dengan panjang kipas itu berbeda. Box mempunyai ukuran yang lebih panjang daripada kipas. Solusinya? Tenaaang, itu bukan jadi sebuah masalah kok untuk kita. Tinggal ditutup aja. Penutupnya sih bebas, penulis di sini pakai polymorph plastic. Apalagi itu? Sebenarnya polymorph plastic itu adalah jenis plastik yang bersifat moldable (dapat dibentuk). Membentuknya sangatlah mudah,  poly-morph direndam di air panas hingga warnanya jadi bening. Lalu bisa dengan mudah dibentuk. Kalau nggak ada polymorph nggak harus beli kok. Bisa ditutup pakai kertas yang diisolasi. Semua tergantung kreativitas kita masing-masing. Penampakan alat setelah dijadikan satu, dibaut, serta ditutup dengan polymorph ada di bawah

dsc03271

Test it out…

Nah, sebelu, benar-benar dipakai, ditest dulu. Coba dihubungkan ke sumber listrik, lalu lihat. Keadaan normal terjadi kalau kipas berputar, dan udara yang kita rasakan di bagian pengeluaran memiliki suhu yang hangat. Kalau belum seperti itu, silahkan dicek kembali rangkaian maupun konfigurasi koneksi antara kawat Nichrome dengan kipasnya. Kalau sudah normal, sekarang tinggal ambil sepatu, masukkan ke bagian dalamnya, lalu hubungkan dengan listrik. Dan ditunggu beberapa lama. Yakin sepatumu bagian dalam akan kering.

 dsc03277

Yeay! Selesai lagi satu alat di sini. Kita sudah mempunyai alat pengering sepatu sendiri. Nggak perlu bingung lagi kalau sepatu basah karena kehujanan. Hehehe. Akhir kata, terimakasih kepada para pembaca setia yang mau mampir. Tetap nantikan tulisa-tulisanku selanjutnya. Happy DIY!

Disclaimer

  1. Rangkaian di atas merupakan rangkaian yang sederhana, anda bisa melengkapi dengan komponen-komponen lain yang dapat mendukungnya. Tujuan penulis di sini adalah untuk menunjukkan konsepnya, untuk pengembangan diserahkan masing-masing kepada pembaca.
  2. Penulis tidak bertanggung jawab atas kerusakan alat-alat yang terjadi diakibatkan kesalahan dalam konfigurasi koneksi. Sekali lagi, tujuan penulis disini adalah berbagi pengetahuan tentang cara pembuatan alat secara sederhana.
  3. Semua gambar bersumber dari dokumentasi penulis, kecuali gambar icon post yang bisa didapatkan pada alamat berikut (http://www.freepik.com/free-vector/wooden-table-with-hammer-and-paintbrush-background_933476.htm#term=diy&page=1&position=23)
Bagikan ke temanShare on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn



Kategori


0 komentar pada “DIY Shoes Dryer

- Belum ada komentar untuk post ini -

Ada Komentar?


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*